Pengantar
Menanggapi berita mengenai kasus penyadapan Pemerintah Australia terhadap Presiden SBY dan pejabat-pejabat negara yang lainnya saya berpendapat tindakan pemerintah untuk saat ini masih kurang tegas, buat apa menarik dubes RI untuk Australia dengan tujuan agar Australia menarik kembali dubesnya, pernyataan yang paling disayangkan lagi adalah sikap tegas abbot (PM Aus) yang mengatakan jangan harap mereka akan mengucapkan permohonan maaf kepada Indonesia. Sungguh tindakan yang tidak jantan / jauh dari sikap kesatria, kenyataannya sudah terbukti bahwa mereka melakukan penyadapan tetapi permintaan maaf saja tidak mau dilakukan.
Hubungan Diplomatik
Negara adalah satu kesatuan yang utuh dari setiap masyarakat yang memiliki perbedaan karakter serta kemauan yang berbeda-beda, jika diambil suatu perumpamaan seorang saja apabila hal yang sangat privacy diketahui oleh orang lain maka pasti akan tersinggung karena hal tersebut mengungkapkan secara langsung harkat dan martabatnya diinjak-injak/tidak dihargai lagi. Terlebih hal ini terjadi pada suatu negara yang saat sekarang harkat, derajat dan martabatnya sedang dirongrong oleh orang yang asing diluar lingkaran keluarga seperti bangsa kulit putih Aus.
Alih-alih dengan mengatakan langkah yang terukur dan bijaksana yaitu tindakan Pemerintah dengan memanggil dubes kembali, kurang tepat menurut saya karena persoalan ini adalah persoalan yang berat jadi dibutuhkan suatu tindakan yang tegas yakni memulang dubes Aus yang ada di Indonesia yang terbukti salah menggunakan keduataan besarnya sebagai markas penyadapan. Dubes itu bisa kembali ke Indonesia apabila sudah ada penjelasan dari Aus dan permohonan maaf yang kepada pemerintah Indonesia. Langkah kedua adalah mengkaji kembali hubungan diplomatik yang telah dilaksanakan oleh kedua belah pihak sehingga hal ini akan berujung pada pemutusan hubungan diplomatik apabila memang diperlukan.
Penutup
Negara kita adalah negara yang besar terbentang dari aceh sampai papua, mempunyai kekayaan alam yang melimpah ruah, sudah saatnya kita kaum muda zaman sekarang berpikir untuk masa depan, selamanya pihak yang besar akan menindas yang kecil, ketika yang besar menindas, yang kecil tidak akan bisa berbuat apa-apa dikarenakan ketergantungan terhadap yang besar tersebut. Negara yang kecil itu takut ketika semua bantuan diambil oleh pihak yang besar tadi.
Saya tidak mengatakan bahwa negara kita kecil, tetapi ini merupakan momentum yang tepat untuk berinstrospeksi diri memperbaiki sendi-sendi pemerintahan kita, apa kinerja BIN yang bekerja dalam bidang spionase yang layaknya kejadian seperti ini tidak terjadi, beberapa banyak uang negara yang dikeluarkan untuk mendidik kader-kader intelijen kalau hal yang seperti ini tidak bisa di handle. Saatnyalah kita untuk hidup mandiri dalam bidang ekonomi karena negara yang memiliki Power cenderung bermain di lini ekonomi untuk menjerat secara tidak langsung agar negara tersebut tergantung dengan kebijakan ekonomi negaranya. contohnya sekarang semua negara didunia menilai mata uangnya dengan dollar US, bisa dibayangkan ketika US krisis mata uang kita juga akan iktu anjlok. Terakhir, kemampuan Sumber daya Manusia yang perlu ditingkatkan sebab negara kita memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah namun yang mengelolanya tetap pihak asing contohnya freeport. Tidak bisa dipungkiri kita masih belum bisa menjadi tuan rumah di negara kita sendiri. Banyak PR yang harus kita kerjakan !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar