Saya Ali Akbar Vela, Andi Ali Akbar Vela Rafsanjani tepatnya. Seorang anak yang terlahir di Selayar, salah satu Kabupaten yang berada di jajaran Provinsi Sulawesi – Selatan. Sejak kecil saya sudah agak berbeda dengan teman – teman sekelas waktu SD. Ketika Bu guru bertanya mengenai cita – cita, banyak dari teman - teman yang memilih dokter, pilot, astronout, polisi dan sebagainya. Maka saya lain, ketika gilirannya, saya akan lantangnya mengatakan ingin menjadi pemimpin.
TK, SD, SMP, hingga Sekolah Menengah Atas kutempuh di Kabupatenku, dan ketika lulus SMA kucoba mengadu nasib, berjuang untuk menggapai cita – citaku untuk menjadi seorang pemimpin di masyarakat dengan mengikuti tes IPDN. Awalnya saya beranggapan bahwa saya adalah orang Selayar yang lahir di Indonesia, ingin mendaftar menjadi Praja.
Sebagai Putra daerah Mangkasara (Sulawesi – Selatan asli) saya memegang teguh kata – kata petuah dari nenek moyang yang sangat keras doktrinnya yaitu Siri’ na Pacce (merasa malu ketika kalah). Saya masih berharap anggapan ini mampu berubah saat melaksanakan pendidikan di lembah manglayang ketika lulus nanti. Tes demi tes, tahap demi tahap kulalui dan Alhamdulillah Allah menakdirkanku untuk mengisi mozaik hidupku pada jalan pengabdian kepada masyarakat, saya lulus.
Menyandang gelar dengan sebutan Praja, sebenarnya seorang harus merasa bangga karena tahapan demi tahapan tes harus dilalaui. Namun pada kenyataannya jauh panggang dari api. Banyak yang tidak sesuai dengan apa yang diharapan. Kebanyakan tidak mampu menunjukkan kebanggaannya sebagai kader ataupun anak bangsa. Ego – ego sektoral, kebanggaan yang berlebihan terhadap daerah asalanya (sukuisme), pengkotak – kotakan kontingen sehingga seakan ada sekat dan batas antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain terdoktrinasi dengan kuat secara turun – temurun dari setiap angakatan. Dari sisi inilah yang harus kita kritisi, rasa Nasionalisme dan Patriotisme Praja itu.
Sekarang akhir dari Madya Praja, setelah kulewati pendidikan di sini selama kurang lebih 2 tahun. Saya cukup mengetahui, kebudayaan yang turun – termurun serta kebiasaan – kebiasaan yang sering dilakukan Praja terutama hal – hal yang terkait dengan sikap Patriotisme dan Nasionalisme Praja itu sendiri. W.J.S Poerwadarminta dalam kamus besarnya mengartikan nasionalisme adalah rasa kebangsaan yang dimilki oleh setiap orang dari suatu negara yang menunjukkan bahwa ia bangga akan tanah kelahirannya, hingga mampu mendorongnnya untuk berbuat sesuatu kepada bangsanya, sedangkan Patriotisme adalah tindakan heroik (rela berkorban) yang dilakukan untuk membela bangsa dan negaranya.
Nasionalisme Praja dapat dilihat dengan sikap yang ditunjukkan sesuai dengan visi yang ingin dicapai oleh IPDN, yaitu Praja mampu bersikap negarawan, profesional, dan demokratis. Negarawan yakni Praja mampu memahami karakteristik kebangsaan Indonesia (diversity in union / Perbedaan dalam satu) dalam artian tidak hanya selalu merujuk kepada kontingennya sendiri sehingga muncul ego – ego sektoral dan sukuisme yang berlebihan. Namun mampu berbaur dan menerima kebudayaan – kebudayaan serta sifat – sifat dari kontingen yang lain. Walaupun berbeda bahasa, warna kulit, jenis rambut: keriting ,ikal , lurus, namun tetap satu yaitu kader aparatur pemerintahan dalam negeri yang disebut Praja, orang Indonesia.
Dengan memahami nasionalisme, Praja mampu mengetahui bahwa Indonesia memiliki karakter yang sangat beragam, perbedaan suku, adat – istiadat dan kebiasaan bukanlah merupakan suatu kelemahan bagi bangsa pada umumnya dan Praja pada khususnya, namun merupakan suatu kekuatan untuk mencapai persatuan dan kesatuan yang hakiki. Mengapa hakiki? Karena untuk mencapai suatu tujuan, maka haruslah ada proses serta usaha yang wajib dijalani. Negara kita pada tahun ini akan melaksanakan HUT-nya yang 66 tahun, itu berarti sudah setengah abad lebih kita berproses dan berusaha untuk bersatu dari sabang sampe merauke dalam wadah Negara Kesatuan dan diharapkan mampu mencapai tingkat persatuan dan kesatuan pada level hakiki.
Berikut akan diuraikan betapa indahnya perbedaan itu. Sebagai suatu contoh, tidak akan tercipta suara yang merdu dari gitar apabila tidak ada perbedaan tegangan antara dawai yang satu dengan dawai - dawai yang lainnya. Hanya karena perbedaan tersebutlah hingga tercipta suatu alunan musik yang merdu dan indah. Begitu pula dengan Indonesia (Bhinneka Tunggal Ika). Perbedaan – perbedaan dari setiap daerah merupakan suatu hal yang sangat berharga karena mampu menghasilkan keanekaragaman kebudayaan daerahnya masing – masing, adat – istiadat, tari – tarian, makanan khas dan keanekaragaman suku mulai dari Aceh hingga Papua dan Miangas sampai ke pulau rote, mampu membuat hidup kita berwarna dan sangat beragam.
Dengan memahami paham kebangsaan itu, diharapkan akan timbul sikap Patriotisme Praja, yaitu mampu menghilangkan paham – paham kontingenisasi, doktrin – doktrin salah akan ego – ego sektoral yang sebenarnya hanya akan membuat pikiran Praja semakin menyempit. Tidak ada lagi yang mengatakan bahwa saya dari kontingen A maka hanya akan bergaul dengan Kontingen itu sendiri, serta tidak ada lagi yang berpaham kontingen saya adalah kontingen yang terbaik sedagkan kontingen lain tidak akan sehebat dengan kontingen saya. Tidak ada lagi sumabagut, sumbagsel, subejo, borneo, celebes, moluccas, nusa tenggara, papua, intim. Serta tidak ada lagi saya dan mereka namun kita dan semua sama dan hanya satu, orang Indonesia.
Sebentar lagi bintang dua di pundak, Saya masih mempunyai waktu kurang lebih 2 tahun kedepan lagi untuk melaksanakan pendidikan di lembah Manglayang ini dan berharap doktrin – doktrin yang saya paham ketika tes yang lalu mampu berubah. Paling tidak sikap Siri’ na Pacce kami mampu terkontrol karena kami sadar itu takkan bisa dihilangkan total namun bawaan dari sejak lahir. Bukan lagi orang Makassar yang tinggal di Indonesia namun Andi Ali Akbar adalah orang Indonesia yang kebetulan lahir di kabupaten Selayar, Sulawesi – Selatan.
Demikianlah sedikit coretan – coretan saya dalam rangka menyambut hari kemerdekaan ini, semoga mampu dijadikan masukan dan layak dalam mengikuti kompetisi karya tulis ini, kupersembahkan hanya untuk Praja, calon pemimpin bangsa kedepan.
NAMA : ANDI ALI AKBAR
PANGKAT : MADYA PRAJA
NPP : 20.1071
WISMA : NUSANTARA 2 ATAS
* Runner Up kompetisi karya tulis dalam HUT Ri 66 IPDN Jatinangor.. Thanks god heheh..